Jakarta, LE - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Gunung Anak Krakatau tidak memiliki potensi mengeluarkan letusan besar seperti pendahulunya Gunung Krakatau pada 1883.
Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo, seperti dikutip dari halaman cnnindonesia.com, menjelaskan potensi letusan besar dapat terjadi jika sebuah gunung api memiliki magma yang bersifat dasistik atau sangat asam dan minim kandungan besi sehingga membentuk batu apung. Baca juga: Rapat Paripurna DPRD Provinsi Lampung Tetapkan Program Pembentukan Perda ...
"Kalau ada gunung mengandung batu apung, dia bisa meletus dahsyat sama seperti Krakatau (tahun) 1883," kata Antonius atau karib disapa Purbo di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (27/12).
Menurutnya, letusan Gunung Krakatau pada 1883 telah melontarkan material batu apung ke wilayah sekitar Banten dan Anyer. Namun, untuk Gunung Anak Krakatau saat ini disebut tidak memiliki potensi tersebut.
"Magmanya Gunung Anak Krakatau tidak punya potensi membentuk batu apung. Jadi tidak ada potensi letusan besar," kata dia. Baca juga: JMSI Lamsel Dilantik, Nanang : Wadah Kebebasan Berpendapat
Lebih lanjut Purbo menjelaskan Gunung Anak Krakatau membutuhkan waktu sekitar 1.000 tahun untuk membentuk batu apung sejak letusan besar terakhir Gunung Krakatau pada 1883.
"Hitungannya bukan sejak Gunung Anak Krakatau lahir. Saat asam membentuk kaldera, asamnya hilang menjadi basa. Nah basanya dibentuk ke dalam menjadi asam lagi dan butuh proses lagi," ujarnya.
Saat ini, Badan Geologi kata dia tengah fokus memantau perubahan pola erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebab ada perubahan pola erupsi dari strombolian ke susetryan. Baca juga: 1.030 Rumah Tak Layak di Lamsel Terima Bantuan
Purbo menjelaskan erupsi strombolian bersifat letusan vertikal dan diduga menyebabkan longsor yang berakibat tsunami pada Sabtu (22/12). Sedangkan susetryan bertipikal magma meleleh ke bawah air serta membentuk fragmentasi abu.
Selain itu, Purbo memastikan jika tidak akan ada peningkatan status dari level III siaga ke level IV awas. Sebab, wilayah Gunung Anak Krakatau kata dia, tidak memiliki penduduk yang harus diungsikan.
"Kalau tidak ada penduduk, tidak akan ditetapkan level empat, artinya mengungsi. Siapa yang mau kita ungsikan kalau tetapkan level empat," katanya. Baca juga: Musrenbang Provinsi Lampung Tahun 2020, Gubernur Lakukan Refocusing Angga...
Purbo pun menambahkan selain Gunung Anak Krakatau, ada gunung laut lain yang kini tengah aktif. Gunung laut tersebut adalah Gunung Karangetang yang berlokasi di utara Manado.
"Yang lagi aktifitas gunung laut sebetulnya bukan Anak Krakatau aja, tapi ada juga Karangetang di utara Manado. Yang satu itu tidak dibicarakan karena kita dekat dengan Krakatau," kata Purbo. (cnn)
JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com