Bandarlampung, LE - 8.000 ton biji kopi impor asal Vietnam yang beredar di Lampung membuat masyarakat dan sejumlah instansi terkait menjadi 'gerah'.
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, yang 'notabene' memayungi seluruh aktifitas perkopian di Lampung menyatakan akan menyelidiki dan menyurati pihak-pihak terkait, perihal tersebut. Baca juga: Walikota Eva Dwiana HadiriRapat Paripurna DPRD Bandar Lampung
"Keberadaan kopi impor yang berkualitas rendah dan harga murah tersebut mengganggu tata niaga perkopian di Lampung. Kami sudah menyurati PT Pelindo dan Bea dan Cukai terkait masuknya kopi impor diduga asal Vietnam dengan kualitas rendah dan murah tersebut," kata Ketua AEKI Lampung Juprius, Minggu (28/7/2019).
Seperti dikutip dari republika.co.id, Juprius mengatakan terdapat 8.000 ton biji kopi asal Vietnam masuk ke Lampung oleh perusahaan multinasional.
Biji kopi tersebut dipasok ke industri untuk diolah kembali dengan kopil lokal, lalu diekspor ke negara lain dengan harga bersaing. Baca juga: Tindak Lanjuti Keluhan, Lurah Tanjung Seneng Musyawarah Bersama
Ia mengatakan biji kopi impor yang kualitasnya buruk tersebut memengaruhi harga dan kualitas kopi asli asal petani Lampung yang telah diekspor ke negara tertentu.
"Kopi asal Lampung sekarang dinilai kualitasnya kurang baik, karena itu tadi sudah tercemar dengan kopi oplosan itu," katanya.
Menurut dia, kehadiran biji kopi impor yang diolah kembali di Lampung dengan biji kopi lokal membuat kualitas kopi asli menurun dan harga kopi di tingkat petani semakin anjlok. Baca juga: Pasangan Rycko-Johan Resmi Mendaftar Pertama di KPU Kota Bandarlampung
Ia mengakui importir ingin mengeruk keuntungan yang besar dengan mendatangkan biji kopi asal Vietnam yang kualitasnya lebih buruk dari kopi asli petani di Lampung. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dengan membeli murah biji kopi Vietnam yang tidak berkualitas dicampur dengan biji kopi asal Lampung lalu diekspor kembali.
Banyaknya biji kopi, kata dia, secara berdampak pada nasib petani kopi di Lampung. Di saat produksi menurun, harga kopi juga ikut turun, sehingga mau tidak mau petani harus menjual biji kopinya kepada pengumpul agar dapat menghidupi keluarganya.
Sedangkan importir memanfaatkan harga murah biji kopi asal petani Lampung untuk dilakukan pencampuran dengan biji kopi asal Vietnam lalu dikemas untuk diekspor ke negara lain. "Akhirnya, kualitas kopi asal Lampung yang diterima di negara luar menjadi berkurang karena sudah dioplos," kata Juprius. Baca juga: Nanang Jalani Vaksinasi Covid-19 Kedua di RSUD Bob Bazar
Sementara itu, Syafnijal Datuk Sinaro, pemerhati kopi di Lampung menyatakan, Pemprov Lampung tidak hanya langsung menyalahkan adanya impor kopi asal Vietnam yang kualitasnya rendah dari kopi asal Lampung. Menurut dia, pemprov juga harus gencar memberikan pembinaan dan pelatihan kepada petani kopi di Lampung.
"Sekarang ini, kita lihat pembinaan atau pelatihan kepada petani kopi sudah sampai dimana. Jadi, hendaknya jangan langsung cepat menyalahkan impor. Kita harus lihat tanaman kopi petani perlu diremajakan, penyediaan pupuk, dan juga kualitasnya," ujar Datuk yang pernah aktif dalam perkopian di Lampung.
Menurut dia, kalau petani kopi di Lampung terus dilakukan pembinaan, pendampingan, dan pelatihan, serta melakukan peremajaan tanaman kopi, maka hasil produksi kopinya akan semakin baik, dan harganya sudah tentu bersaing. Dengan sendirinya, impor kopi asal Vietnam yang kualitasnya sangat buruk tersebut akan hilang sendirinya. Baca juga: Bup Lamsel Rombak 14 Pejabat
Selama ini, produksi biji kopi petani di Lampung semakin berkurang, kualitas kopinya masih belum bisa diandalkan untuk diterima di negara tujuan ekspor kopi, karena tanaman kopi tua masih dipertahankan petani. Akibatnya, produksi menurun, kualitas berkurang, harganya pun menjadi jatuh. (kiki/net)
JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com